DEN Tegaskan PLTN Tidak Langsung Gantikan PLTU

Rabu, 14 Januari 2026 | 11:32:34 WIB
DEN Tegaskan PLTN Tidak Langsung Gantikan PLTU

JAKARTA - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia menuai perhatian publik sebagai salah satu upaya diversifikasi sumber energi nasional. 

Namun, Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan bahwa kehadiran PLTN tidak akan langsung menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara dalam waktu dekat.

Saat ini, sekitar 60 persen kebutuhan listrik nasional masih dipasok dari PLTU, sehingga keberlanjutan pembangkit ini tetap menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan. 

DEN menekankan bahwa PLTN dan PLTU ke depan akan berjalan beriringan, dengan tujuan utama menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menurunkan emisi karbon.

Sekretaris Jenderal DEN, Dadan Kusdiana, menegaskan, “PLTU masih ada, PLTN-nya masih ada. Sehingga fokusnya untuk ketahanan energi dan dekarbonisasi. Nah ini berjalan. Jadi ke depan itu akan didorong bagaimana pembangkit yang semakin bersih, semakin berkurang emisinya,” ujar Dadan.

Peran PLTN Sebagai Base Load

PLTN diposisikan sebagai pembangkit base load yang mampu menyeimbangkan pasokan listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) yang bersifat fluktuatif. Karakteristik ini membuat PLTN menjadi alternatif yang penting untuk menjaga pasokan listrik stabil dan berkelanjutan.

Sebagai pembangkit beban dasar, PLTN juga dianggap lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis fosil. 

Hal ini sejalan dengan tren global, di mana sejumlah negara menjadikan energi nuklir sebagai bagian dari strategi transisi energi untuk menekan emisi dan meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.

“Kalau kita ingin mendorong pembangkit EBT lebih banyak, maka perlu pembangkit yang bisa menyeimbangkan dan menjadi base load. PLTN itu sama-sama bersih dan bisa menjalankan fungsi tersebut,” jelas Dadan. 

Dengan demikian, PLTN berperan sebagai pelengkap yang menjaga ketersediaan listrik tetap aman sambil mendukung target dekarbonisasi.

Strategi Realisasi Pembangunan PLTN

Untuk mempercepat pembangunan PLTN, DEN telah menginisiasi pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO). 

Struktur organisasi ini dirancang untuk mengintegrasikan fungsi dari sejumlah institusi terkait dan memastikan koordinasi lintas kementerian berjalan efektif.

“Perpresnya sudah di meja Pak Presiden dan tinggal menunggu proses pengesahan,” ujar Dadan. Dengan adanya NEPIO, proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan proyek PLTN diharapkan lebih terstruktur dan terarah.

Setelah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga ini juga direncanakan menjadi bagian dari struktur NEPIO. Kehadiran BRIN dalam NEPIO akan memperkuat aspek riset dan inovasi dalam pembangunan PLTN.

“BRIN akan menjadi bagian dari organisasi ini, meskipun detailnya masih menunggu penetapan,” pungkas Dadan. 

Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen memanfaatkan kemampuan penelitian nasional untuk mendukung energi nuklir yang aman dan efisien.

Hubungan PLTU dan PLTN dalam Sistem Energi Nasional

DEN menegaskan bahwa PLTU masih menjadi komponen utama dalam sistem energi nasional. Kehadiran PLTN dimaksudkan untuk melengkapi dan menyeimbangkan sistem kelistrikan, bukan untuk menggantikan PLTU secara langsung. 

Strategi ini penting untuk menjaga ketersediaan energi listrik yang andal, terutama saat beban puncak atau saat produksi energi terbarukan tidak stabil.

Kehadiran PLTN juga akan memungkinkan pemerintah mendorong penggunaan EBT lebih luas. Dengan base load dari PLTN, fluktuasi dari energi surya atau angin dapat diimbangi sehingga sistem tetap stabil. 

Ini menjadi bagian dari strategi transisi energi Indonesia yang menggabungkan aspek ketahanan, keberlanjutan, dan dekarbonisasi secara bersamaan.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun manfaat PLTN jelas, DEN menyadari adanya tantangan dalam implementasi proyek ini. Faktor keamanan, biaya pembangunan, serta penerimaan publik menjadi hal penting yang harus diperhatikan. 

Pemerintah perlu memastikan bahwa PLTN dibangun dengan standar keselamatan tinggi dan pengawasan ketat agar masyarakat merasa aman dan proyek berjalan lancar.

Ke depan, DEN berharap sinergi antara PLTU, PLTN, dan EBT dapat menciptakan sistem kelistrikan yang stabil, ramah lingkungan, dan mendukung target emisi nasional. 

Dengan pendekatan ini, ketahanan energi nasional tetap terjaga, sementara masyarakat dan industri dapat menikmati pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan.

Terkini